Masjid Kubah Emas; Tempat Transit Yang Dulu Dipandang Ironi

Sebagaimana tertera dalam profilnya, Masjid Dian Al Mahri (Masjid Kubah Emas) dibangun oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten. Konon kabarnya usaha perminyakannya moncer di Brunei. Lalu, sebagai bentuk kecintaanya pada agama, ia bangun masjid yang sangat megah dan gemerlap untuk ukuran saat itu, bahkan mungkin hingga kini.


Semula, ia membeli tanah di tempat yang sekarang berlokasi masjid ini pada tahun 1996. Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai tahun 2006. Berdiri di atas luas tanah 50 hektar, bangunan masjid diperkirakan berukuran 60×120 meter atau sekitar 8 ribu meter persegi. Daya tampung di kisaran angka 20 ribu orang. Lokasinya tepat di Jl. Raya Meruyung, Meruyung, Limo, Kota Depok, Jawa Barat 16515. Selain masjid, di lokasi ini juga dibangun seperti kediaman dan juga gedung yang biasa digunakan untuk acara pernikahan.

Mengacu pada tulisan Nirmala dkk dalam Jurnal Dimensi Vol 16 No 1 (2019), masjid ini memiliki 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Uniknya, seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Bentuk kubah utama menyerupai kubah Taj Mahal. Menambah kemegahan, di dalam masjid ini terdapat lampu gantung yang didatangkan langsung dari Italia seberat 8 ton. Selain itu, relief hiasan di atas tempat imam juga terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit Masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.

Di saat semua pandangan tertuju pada Masjid Istiqlal yang terletak di Jakarta pusat sebagai satu-satunya masjid dengan kemegahan dan keluasannya, serta potensi untuk dijadikan tempat transit, dibukanya masjid ini menjadi alternatif paling diburu saat itu. Hampir setiap hari rombongan peziarah wali, baik 9 maupun kadang lebih, ataupun rombongan anak-anak sekolah mengarahkan kendaraan yang mereka tumpangi untuk berhenti sejenak ke masjid ini. Padahal lokasi ini bukan jalur lempeng yang menghubungkan dengan lokasi makam keramat yang lain. Sepulang dari masjid ini, mereka harus memacu kendaraannya kembali ke jalanan pantura ataupun jalan tol trans Jawa untuk menuju destinasi selanjutnya.

Mereka bisa melepas lelah sejenak di situ. Membersihkan badan sambil mungkin selonjoran. Memang disediakan juga semacam aula atau ruang terbuka untuk menampung para tamu. Warung tidak ada di dalam area masjid, jadi jika ingin membeli kebutuhan harus ke luar lingkungan masjid. Atau, bisa juga ke warung-warung yang disediakan di area parkir.

Pada awal dibuka, kesan kesenjangan kemegahan masjid dengan lingkungan sekitar teramat terasa. Sekeliling masjid saat itu masih berupa kampung yang masih agak tertinggal. Meruyung saat itu hanya hamparan lahan yang dihuni. Belum ada detak dan deru kemajuan ekonomi dan teknologi. Jadi, begitu orang luar masuk ke masjid ini, ia seperti terjebak labirin. Ia harus segera kembali tanpa perlu berlama-lama di situ, jika tak ingin berurusan dengan petugas di situ.

Masjid ini sejak awal memang menjadi ironi dan membalikkan semua perdebatan saat itu tentang esensi dakwah Islam. Ironi pertama, masjid semestinya dibangun secara kolektif oleh masyarakat dan pemerintah walaupun lahannya bisa jadi dari wakaf seseorang. Namun, masjid ini membalikkan semua logika saat itu. Tidak ada "preseden" sebelumnya, misalnya sebagi lokasi majlis taklim terlebih dahulu, tetapi langsung didirikan saja tanpa sokongan dana dari pihak lain. Saat itu juga yang berkembang adalah dakwah seorang aghniya adalah dengan hartanya, misalnya dengan santunan kepada fakir miskin. Saat itu banyak orang bertanya-tanya apa motif pendiri yang bukan juga dari kalangan ulama itu mendirikan masjid. Ini adalah ironi selanjutnya.

Namun semuanya telah terjadi, apapun dalihnya. Banyak orang Indonesia, termasuk juga dari luar Jawa yang penasaran dengan masjid ini dan selalu menyempatkan diri mengunjungi masjid ini sewaktu kunjungan ke Jakarta. Hampir semuanya tertuju pada emas yang melapisi kubah masjid ini.

Kini, masjid ini dikelola oleh anak-anak almarhumah pendiri masjid ini. Salat rowatib berjamaah dilakukan dan juga Salat Jumat. Sesekali diadakan pengajian umum dengan da'i dari lokal. Kini keterlibatan orang lokal makin nyata, dari pekerja formal (pengurus, imam, penceramah) maupun informal seperti para tukang parkirnya.

Melipir News

Komentar