Mengapa Pasar Saham "Dingin" Saat Idul Adha?

Setiap tahun, saat Idul Adha tiba, pemandangan yang paling khas adalah deretan hewan kurban dijual di pinggir jalanan, lalu saat tiba hari raya Idul Adha, hewan tersebut dipotong dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat

Secara logika, lonjakan konsumsi daging ini seharusnya menjadi berkah bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pangan, ritel, dan restoran. Namun,  apakah euforia kurban ini juga membuat pasar saham ikut bergairah? Jawaban dari sebuah penelitian akademik ternyata cukup mengejutkan: tidak sama sekali. 

Ilustrasi Sapi di Stock Market (Freepik.com)

Sebuah penelitian dari Universitas Lampung yang terbit di jurnal Indikator: Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis pada Agustus 2025 lalu mencoba mengupas perilaku investor saat hari raya. Para peneliti, Khothibul Umam Hassan dan Trijoko Prasetyo, mengamati 70 perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2018 hingga 2022, dengan fokus pada sektor barang konsumsi yang biasanya paling terpengaruh oleh musim belanja. Hasilnya menunjukkan, dua hari raya besar Islam ini diperlakukan sangat berbeda oleh pasar modal. 

Baca juga: Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Mengutip langsung dari temuan mereka, keuntungan tidak wajar yang signifikan ditemukan pada tiga hari sebelum dan dua hari setelah Idul Fitri, yang menunjukkan adanya respons pasar jangka pendek yang cukup kuat. Artinya, saat Idul Fitri, investor benar-benar bereaksi karena mereka berspekulasi bahwa masyarakat akan boros belanja pakaian, kue, dan ongkos mudik. Namun untuk Idul Adha, penelitian itu menyebut dengan tegas, tidak ditemukan adanya keuntungan tidak wajar yang signifikan selama periode hari raya kurban tersebut. Bahkan, rata-rata pergerakan saham saat Idul Adha cenderung negatif dan tidak konsisten—naik sedikit lalu turun lagi, tanpa pola yang jelas. 

Lalu, mengapa para investor terlihat begitu "dingin" saat sapi dan kambing dipotong di mana-mana? Penelitian ini menjelaskan bahwa dampak ekonomi Idul Adha memang tidak sebesar Idul Fitri. Untuk menguji hal ini, para peneliti menggunakan jendela waktu pengamatan selama sepuluh hari di sekitar hari raya. Hasilnya, semua nilai signifikansi statistik untuk Idul Adha berada di atas sepuluh persen, yang secara sederhana berarti bahwa secara statistik tidak ada reaksi pasar yang berarti. 

Puncaknya, nilai probabilitas tertinggi tercatat pada hari ketiga setelah Idul Adha, yakni 0,201—jauh di atas batas minimal yang dianggap berpengaruh. Menurut para peneliti, Idul Adha tidak biasanya dikaitkan dengan lonjakan besar dalam belanja konsumen. Bedanya, Idul Fitri mendorong belanja massal: baju baru, sepatu, parsel, tiket kereta, hingga camilan untuk tamu. Sementara Idul Adha lebih banyak soal ibadah sosial: potong hewan, lalu dagingnya dibagikan. Aktivitas ini memang mulia, tapi tidak serta-merta menggerakkan laba perusahaan publik secara besar-besaran. 

Namun, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ini pertanda ekonomi sedang buruk. Penelitian ini justru menemukan hal yang membanggakan: pasar modal Indonesia ternyata cukup efisien. Semua informasi public, termasuk jadwal libur Idul Adha, ternyata sudah dengan cepat diserap oleh para investor. Karena semua orang sudah tahu jadwalnya, tidak ada yang terkejut, sehingga tidak ada momen untuk meraih keuntungan besar secara tiba-tiba. Ini selaras dengan teori yang disebut Hipotesis Pasar Efisien. 

Baca juga: Menguak Ekonomi Bayangan Global

Dan riset ini menyimpulkan, temuan ini konsisten dengan Hipotesis Pasar Efisien bentuk semi-kuat, yaitu peristiwa keagamaan besar pada umumnya tidak mengganggu efisiensi pasar modal Indonesia. Artinya, pasar saham kita sudah dewasa, tidak mudah dihebohkan hanya karena ada sapi dan kambing yang disembelih. 

Lalu, apakah penelitian yang menggunakan data hingga tahun 2022 ini masih relevan untuk dibaca di tahun 2026? Jawabannya: sangat relevan. Penelitian ini menggunakan data dari tahun 2018 hingga 2022, sebuah periode yang mencakup masa sebelum, saat, dan setelah pandemi Covid-19. Pola yang ditemukan cukup kuat: Idul Fitri selalu memicu reaksi pasar, sementara Idul Adha tidak. Ini bukan sekadar fenomena satu tahun, melainkan pola yang bertahan selama setidaknya lima tahun berturut-turut. 

Jika tidak ada kejutan besar seperti krisis ekonomi global atau pandemi baru yang mengubah perilaku konsumen secara fundamental, pola ini kemungkinan besar masih terjadi di tahun-tahun mendatang. Kalaupun pemerintah suatu saat mengubah kebijakan, misalnya dengan memberikan tunjangan hari raya khusus kurban atau insentif besar-besaran untuk peternakan rakyat, pola itu bisa bergeser. Tapi selama tidak ada intervensi kebijakan yang drastis, perilaku investor cenderung konsisten dari tahun ke tahun. Para peneliti sendiri mencatat bahwa temuan mereka mencerminkan karakter dasar Idul Adha yang lebih berorientasi sosial dan spiritual, bukan transaksional, dan karakter ini tidak berubah hanya karena bergantinya tahun. 

Latifah/melipirnews.com 

Komentar

POPULER SEPEKAN

Gedung Megah Kampus Buddhis Bukan Pajangan, Tapi Tempat Lahirkan Gagasan

Kopi, Dipopulerkan Para Sufi Hingga Filsof Sir Francis Bacon

Petani di Depok Panen Uwi Berukuran Jumbo

Konferensi Ulama Perempuan 'Aisyiyah Tegaskan Otoritas Intelektual Perempuan dalam Keilmuan Islam

Dari Layar Ke Luka; Ketika Kekerasan Digital Menghantam Perempuan di Pulau-Pulau Terpencil

Hilirisasasi Jamu yang Tersekat di Meja Resep

Susah-Susah Gampang Bermitra dengan Agensi Iklan Digital

Warisan Maria Walanda Maramis bagi Perempuan Minahasa

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Petani di Depok Panen Uwi Berukuran Jumbo

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Hilirisasasi Jamu yang Tersekat di Meja Resep

Gedung Megah Kampus Buddhis Bukan Pajangan, Tapi Tempat Lahirkan Gagasan

Kopi, Chai Latte, dan Kecerdasan Buatan: Bisakah AI Membaca Perasaan Kita pada Suatu Tempat?

Bukan Sekadar Bikin Konten, K-Book Content Camp di Malang Cetak Kreator Literasi Digital yang Kena di Hati

CELIOS: 50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Warga RI

Kopi, Dipopulerkan Para Sufi Hingga Filsof Sir Francis Bacon

Membaca Krisis Air Lewat Folklor dan Ekoteologi

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Untuk pengembangan kanal ini, kami membuka donasi melalui link Paypal di SINI. Terima kasih