Waisak di Tengah Akar Jawa: Ketika Umat Buddha Jatimulyo Menemukan Tradisi Baru
Setiap tahun, umat Buddha memperingati Waisak—trisuci kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha
Di Indonesia, perayaan ini identik dengan pradaksina (berjalan mengelilingi) Candi Borobudur, pembagian air berkah, dan lampion. Namun, di sebuah desa kecil di Yogyakarta, ada cara unik merayakan ajaran Buddha, yaitu dengan kebaya, surjan lurik, belangkon, dan ritual menanam pohon.
Di Desa Jatimulyo, Kulon Progo, sekitar 600 umat Buddha Jawa tidak memisahkan identitas keagamaan dan kebudayaan mereka. Sebaliknya, menurut Jayanti dan Yulianti (2026) dalam studi Rural Buddhist Agency in Contemporary Indonesia, mereka secara aktif menciptakan sebuah tradisi baru yang sepenuhnya Buddha namun sepenuhnya Jawa: Tribuana Manggala Bhakti.
Lahirnya Tribuana Manggala Bhakti
Buddha masuk ke Jatimulyo bukan melalui biku besar atau organisasi nasional, tetapi melalui seorang tokoh spiritual lokal bernama Mbah Slamet pada tahun 1960-an. Setelah peristiwa politik 1965, Mbah Slamet menyarankan warga yang saat itu mempraktikkan kejawen (Kasampurnan) untuk memeluk agama resmi yang tetap selaras dengan keyakinan leluhur. Pilihan jatuh pada agama Buddha.
Baca juga: Agen Filantropi itu Bernama Masjid
Namun, perpindahan itu tidak berarti meninggalkan tradisi Jawa. Justru sebaliknya. Seperti diakui seorang narasumber berinisial Sb dalam penelitian tersebut, umat Buddha di Jatimulyo tetap menggelar kenduri (selamatan) karena bagi mereka Buddha dan Jawa adalah dua sisi dari mata uang yang sama.
Tradisi Tribuana Manggala Bhakti tidak lahir begitu saja. Pada 2014-2015, para tokoh masyarakat dan pandita Buddha di Jatimulyo merasa ada yang kurang. “Dalam agama Hindu ada Wana Kerti (ritual pelestarian hutan), tapi dalam Buddha sepertinya tidak ada,” ungkap seorang tokoh berinisial Sh.
Maka mereka menciptakan Tribuana Manggala Bhakti, yaitu sebuah ritual yang menghormati tiga alam (Tribuana): tanah (darat), air, dan udara. Ritual ini pertama kali digelar pada 15 Mei 2016 di Sungai Mudal, kemudian sempat terhenti karena pandemi, dan kembali digelar pada 2023 di Gunung Tumpeng, Jatimulyo.
Beginilah Ritualnya: Kirab, Kebaya, dan Paritta
Pada hari pelaksanaannya, ratusan umat, dari anak-anak hingga orang tua, berpakaian adat Jawa lengkap. Para wanita memakai kebaya dan jarik (kain batik), rambut disanggul rapi. Para pria mengenakan surjan lurik (baju khas Jawa dengan kancing tegak) dan belangkon (penutup kepala). Pakaian itu bukan sekadar busana. Ia adalah pernyataan tubuh bahwa menjadi Buddha tidak berarti meninggalkan tanah Jawa.
Prosesi dimulai dengan kirab diiringi gamelan. Pemimpin ritual membawa dupa, sesaji, dan air suci yang diambil dari sumber terdekat. Sepanjang perjalanan menanjak ke puncak gunung, para peserta berjalan hening, tangan anjali (menyusun berdoa), dan membawa dupa.
Di puncak, ritual puncak berlangsung, yaitu pembacaan paritta (doa perlindungan dalam bahasa Pali), dilanjutkan dengan menanam bibit pohon, melepas burung endemik, dan menebar benih ikan ke sungai. Air suci yang telah diberkati kemudian dituangkan ke pohon yang baru ditanam sebagai simbol kehidupan.
Akar Tradisi yang Diciptakan
Tribuana Manggala Bhakti adalah contoh sempurna tentang apa yang disebut oleh sejarawan Eric Hobsbawm sebagai invented tradition, yaitu tradisi yang tampak kuno tetapi sebenarnya diciptakan untuk menjawab kebutuhan masa kini. Para peneliti menemukan bahwa ritual ini mengambil pola kirab dari upacara keraton Yogyakarta dan dari perayaan Waisak internasional di Borobudur pada 1970-an.
Baca juga: Konferensi Ulama Perempuan 'Aisyiyah Tegaskan Otoritas Intelektual Perempuan dalam Keilmuan Islam
Seperti yang dikenang oleh Subandiyo, seorang warga Jatimulyo, "Dulu saat Waisak, kami kadang diundang ke Borobudur. Di sana katanya banyak teman-teman Buddha dari luar negeri, jadi kami merayakan Waisak bareng-bareng di Borobudur."
Pengalaman mengikuti Waisak di Borobudur itulah yang kemudian menginspirasi bentuk kirab dan penggunaan air dari tujuh sumber. Namun, Jatimulyo mengolahnya dengan cara sendiri yang lebih pedesaan, lebih dekat dengan sungai dan gunung, dan lebih membumi.
Filosofi Jawa di Balik Ritual: Memayu Hayuning Bawana
Salah satu aspek paling menarik dari Tribuana Manggala Bhakti adalah penggabungan ajaran Buddha dan falsafah Jawa. Selain merujuk pada Vanaropa Sutta (Discourse on Forest Planters) dan Dhammapada Puppha Vagga, masyarakat Jatimulyo juga menyelipkan konsep Memayu Hayuning Bawana, memperindah dan menjaga keselamatan dunia. Falsafah Jawa ini mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam yang bertanggung jawab menjaga keindahan dan keseimbangan.
Dalam wawancara, seorang narasumber berinisial Sr menyatakan, "Menjadi orang Jawa itu artinya menjaga ikatan-ikatan itu. Karena kita lahir dari rahim ibu kita. Ibu kita yang melahirkan dan membesarkan kita. Bahkan setelah mereka tiada, mereka tetap memberikan perlindungan kepada anak-anak dan cucu-cucunya." Dengan kata lain, menanam pohon bukan sekadar aksi lingkungan. Ia adalah bentuk bakti kepada leluhur yang telah menjaga tanah ini selama bergenerasi.
Mengapa Ini Penting bagi Waisak?
Waisak mengajarkan metta (cinta kasih) dan karuna (welas asih) kepada semua makhluk. Di Jatimulyo, ajaran itu tidak hanya didengarkan dalam khotbah, tetapi diwujudkan dengan menanam bibit, melepas burung, dan membersihkan sumber air.
Penelitian ini menyimpulkan, ritual ini adalah kesaksian hening bahwa kehidupan beragama, jika dibiarkan bernapas dalam akar sejarahnya yang berlapis, bisa tetap setia pada doktrin, tanpa harus menjadi bentuk yang homogen dan tertutup.
Selama ini, banyak dari kita membayangkan Waisak sebagai perayaan yang seragam: jubah putih, lilin, dan meditasi di vihara. Tetapi Jatimulyo mengajarkan hal lain. Waisak juga bisa dirayakan dengan kebaya, gamelan, dan sungai desa. Bahwa menjadi Buddha tidak berarti melepas jarik. Bahwa puja bisa diucapkan dalam hening sambil mendaki gunung.
Latifah/melipirnews.com


Komentar
Posting Komentar