“Acara-acara bertaraf internasional yang digelar di Borobudur dengan melibatkan para chef ternama, sering kali hanya melakukan penggalian permukaan tanpa menelusuri akar historis bahan pangan dan cara pengolahannya.” Langit Magelang mulai beranjak senja ketika para pegiat, akademisi, dan pemerhati budaya berkumpul dalam ruang virtual, Sabtu (14/3/2026). Mereka datang dengan satu pertanyaan besar: mampukah Borobudur tetap menjadi ruang damai di tengah tarikan kepentingan politik, ekonomi, dan agama yang kian kuat? Dibuka dengan pengantar dari pegiat budaya yang akrab disapa Pak Sucoro, diskusi segera merambah ke persoalan mendasar. "Borobudur itu bukan ruang mati," ujarnya. "Dia adalah ruang studi, ruang kontemplasi yang hidup. Tapi bagaimana mungkin orang merenung di tengah hiruk-pikuk industri pariwisata?" Jejak Kuliner yang Terlupakan Ary Budiyanto, peneliti sejarah kuliner dari Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, membuka perspektif menarik....
Komentar
Posting Komentar