Jalur Risiko Tinggi Palu-Buol; Antara Kengerian dan Kisah Letupan Asmara Seorang Dokter

Jam di layar ponsel menunjuk angka 02.12, berarti sudah memasuki dini hari. Kendaraan terus melaju membelah malam yang seakan tidak tahu sampai di titik mana nanti ujung pemberhentiannya. Sejak beberapa jam lalu, tidak dijumpai tanda-tanda hunian di pinggir jalan. Kanan kiri jalanan sempit ini hanyalah tebing dan jurang. Sudah tidak terhitung berapa kali sopir tiba-tiba memelankan laju kendaraannya karena melintasi jalanan bekas longsor.

Keterangan video: Kondisi jalan yang rusak menjelang masuk wilayah pusat kota Tolitoli.


Tampak gumpalan tanah basah berceceran di jalan. Bayangan kengerian timbul tenggelam bila melewati titik jalan seperti itu. Namun mobil terus melaju dengan beban berat barang-barang paket yang teronggok di bagian belakang. Sudah berapa lama juga tidak ada menjumpai mobil dari arah depan. Di jalan yang gulita itu, hanya sopir dan satu penumpangnya yang mencoba menghidupkan suasana pekat malam itu. Penumpang satunya, seorang petugas jaringan seluler, telah turun jauh sebelum sampai di perbatasan Donggala-Tolitoli.

Melewati rute jalan pantai barat Sulawesi ini memang paling jauh dibandingkan melewati rute pantai timur. Selisihnya bisa sampai 3 jam dengan jarak tempuh ratusan kilometer. Uniknya, rute sepanjang itu hanya melewati satu kabupaten yakni Donggala, tepatnya Palu-Donggala-Tolitoli. Bisa dibayangkan betapa luasnya masing-masing wilayah ini, terutama dua daerah yang disebutkan terakhir. Daerah Ogoamas yang merupakan ujung Donggala dan Dampal Selatan yang masuk wilayah Tolitoli baru terlewati beberapa saat lalu.

Perjalanan dari Palu menuju Buol melewati Tolitoli terlebih dahulu. Ia beroperasi selalu malam hari bilamana naik mobil travel. Salah satu travel yang dinaiki redaksi Melipirnews termasuk paling direkomendasikan oleh banyak orang. Harga dipatok Rp. 300 ribu sekali jalan. Setiap penumpang mendapatkan sebotol air mineral dan satu bungkus makanan ringan. Di perjalanan, bila mampir di rumah makan, penumpang harus merogoh koceknya sendiri. Redaksi Melipirnews berhasil melipir ke kawasan ini atas fasilitasi Pusat Penelitian Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Balitbangdiklat, Kementerian Agama.

Dari penelusuran jejak digital serta pertanyaan langsung kepada beberapa orang di sekitar, hampir semuanya mengarah pada travel ini. Konon perjalanan siang hari pernah dilakukan perusahaan angkutan ini, namun sejak pandemi Covid 19, penumpang mulai berkurang. Perjalanan siang hari pun dihentikan. Terpaksalah harus siap-siap begadang.

Suasana sedikit mencekam tak bisa ditutupi. Hanya dua orang dalam kendaraan itu, tentu yang paling terasa berat adalah sopir. Di tengah serangan kantuk berat, kewaspadaannya dituntut ekstra tinggi. Untuk menghilangkan kantuknya, ada saja ceritanya, dari soal pribadi hingga kejadian-kejadian yang pernah ada di sepanjang rute jalan gelap tersebut. Sampailah bertemu dengan batu besar teronggok di pinggir jalan yang merupakan sisa longsoran dari bukit. Batu itu lebih besar dari mobil yang kami tumpangi dan teronggok di pinggir jalan. Tiba-tiba dia cerita soal batu besar itu, makhluk halus, serta ulah dokter F yang menggegerkan masyarakat se-Sulawesi Tengah tahun lalu, sambil tangannya terus memegang kemudi.

Dok. Melipirnews

Masyarakat Tolitoli, kisahnya, tahun lalu pernah digemparkan dengan hilangnya dokter F di sebuah jalan di lintasan perbukitan antara Tolitoli-Buol. Seorang dokter yang sudah mapan di usia yang juga mapan, di atas 40 tahun. Pada saat “menghilang”, motor yang ditinggalkan dokter itu masih menyala, kemudian disertai beberapa lembar kertas di dalam tas yang menunjukkan dirinya sedang dalam perjalanan tugas. Sebagai tambahan, dokter F cukup terpandang di wilayah Tolitoli karena tugasnya di RSUD Mokopido, Tolitoli. Banyak pasien mengenalinya sebagai salah satu dokter yang cukup dekat dengan pasien. Istrinya yang keturunan Tionghoa juga menjadi dokter di situ.

Tolitoli heboh. Saat itu pun polisi sontak turun tangan dengan dugaan awal dokter F menjadi korban perampokan. Sejak awal penemuan di TKP, dugaan itu sangat kuat. Namun setelah dua minggu berselang, tim polisi dibantu tim dari Basarnas menyusuri perbukitan di sekitar kejadian tidak dijumpai tanda-tanda bekas kekerasan yang mengarah pada korban. Tidak ada yang bisa bersaksi secara pasti atas terjadinya perampokan dan menghilangnya dokter F itu. Hanya data kegiatan sebelumnya yang memberi petunjuk, misalnya selang beberapa hari sebelum kejadian, dokter F menarik uang cukup besar dari sebuah bank.

Spekulasi pun terus bermunculan, termasuk dokter F yang ditelan batu besar di dekat kejadian dirinya menghilang, seperti batu yang berdiri tegak di pinggir jalan yang kami lewati tadi. Ahli paranormal setempat pun mengarah ke sana, menganggap uka, makhluk halus, sedang menyembunyikan dokter F di batu besar tak jauh dari motor yang ditinggalkannya. Di lokasi pedalaman seperti ini, cerita kekuatan magis uka sangat menyentuh. Sebagian masyarakat percaya dokter F kesamber uka, sementara yang lain masih terus menunggu sampai mana kisah hilangnya dokter favorit di Tolitoli tersebut.

Hingga sampailah ujung cerita, bahwa dokter F ditemukan polisi di sebuah penginapan di wilayah Buol hampir sebulan dari awal peristiwa menghilangnya dokter tersebut. Di sana polisi menjumpai dokter F dengan identitas baru yang tidak mudah dikenali oleh pemilik penginapan. Pembuatan identitas baru ini rupanya sudah dipersiapkan  matang-matang sebelum ia berniat menghilang. Mengherankannya lagi, saat ditemukan tim polisi itu bersamanya adalah seorang perempuan dari Sulawesi Barat yang disebutkan oleh kawan sopir itu merupakan teman sekolahnya dokter F dulu. Kami sama-sama bertanya, apakah karena keduanya pernah mendatangi acara reuni sekolah ya?

MN

Komentar