Kapitalisme yang Merepotkan Diaspora di Balik Peristiwa Mudik


Datangnya peristiwa besar keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri, di beberapa negeri Asia, termasuk Indonesia, ditandai dengan munculnya  diaspora tourism dan juga homecoming days (mudik).

Anya, bukan nama sebenarnya, yang kini menginjak usia kepala 4 tidak pernah lupa akan masa kecilnya semasa di kampung halaman. Pada momen bulan puasa, ia dan teman-teman sebayanya selalu pergi salat tarawih bersama-sama. Kampung halamannya di sebuah desa di Jawa Timur dan kini ia tinggal di kota besar yang berjarak kurang lebih 900 km dari kampung halamannya. Memang tidak seperti anak laki-laki yang bebas main petasan, namun ia masih ingat kenangan ramainya suara petasan bersahutan pada malam Idul Fitri. Sementara suara takbiran di mushola dan masjid terus mengiringi hingar bingar petasan itu. 

Biasanya, anak perempuan seperti dirinya selalu asyik membantu keluarganya ikut menyiapkan segala persiapan suguhan untuk para handai taulan yang akan datang pada hari raya. Termasuk menyiapkan makanan untuk dibawa ke masjid pada malam ganjil jelang lebaran serta pagi buta Idul Fitri. Ia pun ingat waktu membantu ibunya turut menyiapkan aneka masakan dan kue-kue kering untuk persiapan lebaran seperti kue semprong, rengginang, marning, dan kadang keluarganya membuat jenang atau dodol yang proses pembuatannya tidak main-main.

Saat ini, kenangan saat puasa itu mungkin sedang dinikmati ketiga anaknya yang mulai tumbuh besar. Namun, kenangan masa kecilnya terus mengajaknya untuk kembali pulang kampung. Apalagi pusara kedua orangtuanya yang juga terletak di pemakaman umum kampung halamannya terus memanggilnya.

Dengan berbekal THR seadanya, keluarga Anya pun tidak luput melakukan kirab mudik bersama jutaan pemudik lainnya. Baginya, mudik berarti menemukan keutuhan dirinya bersama kenangan masa kecilnya yang ingin direngkuhnya kembali. Seolah, dengan mudik ia menemukan dirinya kembali.

Dalam kajian beberapa literatur, fenomena mudik ini biasa disebut diaspora tourism. Pengertiannya secara bebas berarti orang-orang yang meninggalkan kampung halamannya baik secara sukarela maupun terpaksa, dan kini eksis di tempat yang baru. Mereka ini boleh jadi telah beranak pinak. Namun daerah perantauan merupakan daerah tujuan, sementara daerah asal tetaplah tak tergantikan.

Mudik dalam bentuk dan waktunya yang mungkin berbeda ini ternyata bukan hanya monopoli orang-orang Asia. Mudik juga dilakukan orang-orang dari belahan dunia yang lain. Orang Irlandia juga terkenal sebagai kelompok masyarakat yang gemar merantau. Demikian pula orang-orang Afrika yang tersebar terutama di benua Amerika dan Eropa. Mereka ini juga melakukan mudik pada peristiwa tertentu. 

Khusus di Asia, pemudik bukan hanya dari kalangan Islam menjelang lebaran. Pada saat di ujung Ramadhan, masyarakat Pakistan, Bangladesh, Malaysia dan Indonesia sangat terkenal dengan tradisi mudik ini. Pemandangannya hampir sama. Mereka rela melakukan apa saja demi terwujudnya apa yang disebut visiting friends and relatives (VFR) menjelang hari raya idul Fitri maupun juga idul Adha.

Perlu dicatat, mudik besar-besaran juga dilakukan warga Tiongkok menjelang perayaan tahun baru China. Mereka para pekerja migran ingin merayakan momen pergantian tahun penuh hikmat bersama keluarga di kampung halaman. Sebelum terjadinya wabah covid-19 yang menyetop mudik di masa perayaan tahun baru China, dalam sejarah kemajuan ekonomi China modern, hambatan mudik juga terjadi antara tahun 2007-2009 tatkala badai salju ekstrim menyerang kota-kota besar di China dan mengakibatkan berhentinya sarana transportasi. Akibatnya banyak pekerja migran yang tidak bisa mudik selama kurang lebih dua tahun saat itu.

Mengherankannya, untuk memeriahkan suasana, baik perayaan tahun baru China di Tiongkok dan juga malam lebaran di Indonesia, sama-sama diramaikan dengan suara-suara petasan. Efek petasan juga sama-sama terjadi baik di China maupun di Indonesia. Petasan bisa menghancurkan rumah dan membakar perkampungan. Belakangan, kedua pemerintah pun melalui aparatnya melarang penyulutan petasan pada saat perayaan keagamaan seperti itu untuk menghindari bahaya.

Pendek kata, apa yang dalami Anya, dialami juga oleh ratusan juta pemudik di seluruh dunia. Mereka sebenarnya pelaku kapitalisme dan juga sekaligus korban kapitalisme. Janji kapitalisme membawa kesejahteraan harus dibayar mahal dengan meninggalkan kampung halaman. Akibatnya kampung halaman tetaplah kampung dan tidak pernah berubah. Jika terjadi perubahan mungkin tidak seberapa dan itu beruntung karena pemerintah pusat telah menganggarkan dana desa. Sementara diaspora tetap mengadu nasib di tanah rantau. 

Kondisi di negara berkembang dengan fenomena diaspora tourism, alias homecoming maupun visiting friends and relatives hampir sama. Belum meratanya kue pembangunan mengakibatkan masih terjadinya kesenjangan antardaerah. Jika daerah tidak bisa melaju, maka penduduknya lah yang meninggalkan daerahnya untuk menemukan janji kemajuan yang ditawarkan kapitalisme. Pada saatnya nanti, ia akan menjalani homecoming days ataupun diaspora tourism itu.

MN, dari berbagai sumber. 

Komentar