Peluang dan Tantangan Menggarap Asrama Mahasiswa di Indonesia

Bayangkan jika kampus-kampus di Indonesia memiliki asrama-asrama mahasiswa dan dikelola dengan manajemen yang terpusat. Bukan saja akan menambah pundi-pundi keuntungan kampus, melainkan juga akan mempermudah mahasiswanya untuk menemukan atmosfer akademik yang baik karena jarak penginapan, ruang kuliah, serta perpustakaan sedemikian dekat. Selain hanya dengan berjalan kaki, mobilitas mahasiswa menuju antarasrama maupun tempat belanja kebutuhan sehari-hari, tempat berolahraga, penyaluran hobi serta juga menjangkau sarana ibadah, begitu mudah karena ditopang juga dengan adanya transportasi umum yang gratis. 

Salah satu kolej (asrama mahasiswa) di Universiti Kebangsaan Malaysia 

Pemandangan seperti ini dapat dilihat di kolej-kolej atau asrama di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Terdapat 13 kolej di universitas ini. Mayoritas mahasiswa menempati asrama-asrama ini. 

Bukan di kampus ini saja, kampus-kampus di Malaysia seperti Universiti Putra Malaysia (UPM), Universiti Malaya (UM) dan juga kampus-kampus swasta seperti INTI College di Nilai, Selangor dan lain-lain, umumnya juga mengikuti gaya pendidikan anglo saxon ini, mirip seperti asrama-asrama siswa di film Harry Potter. 

Masing-masing asrama itu juga dikelola dengan sedemikian teratur karena memang ditunjuk pengurus dan staf yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan asrama. Setidaknya, selain petugas kebersihan bekerja setiap pagi, untuk membersihkan daun-daun berguguran dari tanaman rimbun sekitar asrama, juga membersihkan toilet serta mengangkut sampah dari tempat-tempat sampah yang menumpuk setiap hari. 

Para pimpinan asrama atau ketua asrama itu biasanya para dosen senior dari berbagai fakultas yang ada di kampus tersebut. Banyak di antara mereka yang bergelar doktor dan bahkan professor madya atau asisten professor. Mereka ini memimpin kolej-kolej tersebut. Terkadang diadakan perlombaan antarkolej, sehingga masing-masing kolej mengatur timnya agar tampil maksimal dalam setiap perlombaan itu. Keberadaan pengelola itu juga turut mengatur persiapan para perwakilan kolej yang tampil di ajang lomba. 

Pusat kegiatan mahasiswa juga aktif, mulai dari latihan olahraga, musik maupun berbagai ekspo yang dihelat mahasiswa. Jika di UKM misalnya, gedung pusat kegiatan itu dinamakan Pusanika. Letaknya berdampingan dengan perpustakaan pusat. Di Pusanika, mahasiswa dari luar negeri juga bisa memanfaatkan pusat kegiatan mahasiswa ini. Misalnya kelompok mahasiswa musik klasik dan orchestra yang dimainkan oleh mahasiswa-mahasiswa dari China rutin mengadakan latihan musik pada setiap hari libur.  

Bagaimana dengan pemandangan asrama di Indonesia? Tentu tidak sepadan membandingkan asrama mahasiswa di Malaysia dengan asrama mahasiswa di Indonesia. Sejak pemerintahan kolonial hingga era sekarang, memang tampak tidak membangun dan meninggalkan tradisi kehidupan keseharian mahasiswa di kampus yang cukup jelas. Jika misalnya ditarik ke belakang, Bung Karno sendiri tidak tinggal di asrama mahasiswa, melainkan nge-kost di rumah Ibu Inggit Garnasih yang kemudian dijadikan istrinya. 

Mungkin memang benar, orang-orang pintar Indonesia hanya sibuk meramaikan panggung kekuasaan tanpa pernah memikirkan keseharian kehidupan para mahasiswa yang notabene merupakan calon pemimpin-pemimpin bangsa masa depan, para penerus mereka. Termasuk bagaimana agar mahasiswa dapat berkonsentrasi membangun capaian akademiknya dari persoalan asrama yang sebenarnya begitu sederhana. 

Tradisi hidup meng-asrama yang menyatu dengan iklim akademik itu malah terbangun lewat jalur independen seperti pendirian pesantren, seminari, maupun sekolah-sekolah bercirikan keagamaan lainnya. Lewat jalur ini biasanya mahasiswa Indonesia itu menapaki jalur akademiknya. Akademik dalam hal ini jamaknya spesifik pada bidang keagamaan saja. 

Lalu ketika kampus-kampus sekular model Barat berdiri di republik ini, sayangnya pendiriannya biasanya tidak serta merta mengenalkan tradisi berasrama, baik kepada dosen, staf dan para mahasiswanya. Akibatnya, tradisi asrama yang sebetulnya berguna untuk membangun karakter akademik mahasiswa, justru dijadikan barang recehan oleh oknum-oknum pengelola kampus, misalnya mulai dari penggratisan asrama hingga pembiaran asrama ditumbuhi belukar, tinggal di asrama hanya 1 tahun dan tahun setelahnya disuruh keluar, juga asrama hanya diperuntukkan mahasiswa program Bidikmisi dan sebagainya. Akibatnya ruh akademik asrama itu tidak lagi terlihat. Malah tidak jarang, lokasi kampus dan asrama itu justru berjauhan yang mengakibatkan tidak gampang bagi mahasiswa itu untuk mengakses ruang belajar, perpustakaan serta fasilitas kemahasiswaan lainnya. Akibatnya, asrama mahasiswa justru berpisah dari kampusnya. 

MN

Komentar