Melipir Sambil Belajar Kehidupan Ke Petilasan Majapahit di Trowulan

Minum es tebu sungguh sebuah godaan besar tatkala sampai di pintu masuk candi. Penjual es tebu dengan pemrosesan alami itu seakan-akan melambai-lambaikan tangannya kepada setiap pengunjung untuk menghampirinya. Air perasan pohon tebu yang digarap mesin itu disajikan dengan es batu. Manakala diminum di saat cuaca tengah hari yang teriknya luar biasa, akan terbayang sungguh cless rasanya.

Candi Bajang Ratu, Trowulan, Mojokerto

Pemandangan ini bisa dilihat secara jelas pada Candi Bajang Ratu yang terletak di pedukuhan Pelem dan Candi Tikus yang berada di pedukuhan Dinuk, keduanya berada di Desa Temon, kecamatan Trowulan. Para pengunjung akan dimanjakan dengan jajanan es tebu serta aneka jajanan kekinian lainnya. Paling terkenal tentu adalah pentol alias bakso yang disajikan hanya bulatannya saja dibarengi dengan bumbu ala kadarnya.

Mendengar Trowulan, pastilah ingatan kita jauh meluncur dan melintasi bentangan waktu yang begitu panjang. Sekitar enam sampai delapan abad lampau. Ya, di era kejayaan Kerajaan Majapahit. Di kawasan inilah dulu Prabu Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada berkantor. Kira-kira begitu bilamana disandingkan dengan situasi sekarang. 

Guna makin mendukung imajinasi generasi muda jaman sekarang akan situasi kehidupan jaman itu, sandiwara radio berjudul Tutur Tinular karya S. Tijab yang nge-hits 30an tahun silam mungkin akan sangat membantu. Tempat suci dan nilai estetika era itu langsung seakan menyembul. Diiringi sekaligus juga pertarungan-pertarungan fisik adu kesaktian untuk menyelesaikan konflik tidak lepas dari cerita yang dihidupkan dalam sandiwara radio Tutur Tinular itu.

Mengunjungi kedua candi yang jaraknya berdekatan itu, satu jalur menuju kawasan Pacet, bayangan akan keberadaan kekaisaran Majapahit akan ditemukan. Berbeda dengan bangunan candi di Jawa Tengah, kedua candi itu sudah mengenal tanah liat yang diproses menjadi batu bata berwarna merah. Setiap susun bangunan terbuat dari batu bata. Artinya secara teknologi, jaman itu sudah lebih sedikit rumit sekaligus sedikit ringkas.

Akan tetapi, soal keaslian bangunan hingga wujudnya yang sekarang ini mungkin saja masih bisa diperdebatkan. Hal ini mengingat pemugaran sudah beberapa kali dilakukan baik sejak pemerintahan Hindia Belanda maupun oleh pemerintah Indonesia pasca kemerdekaan. Tentu saja para ahli arkeologi yang akan lebih jelas dalam memberikan informasi tentang keaslian bahan bangunan candi. Selain hanya mampu menikmati keindahan sekalian pembelajaran dari perjalanan sejarah masa lampau (flashback) bangsa dulu kala, para pengunjung yang rata-rata orang awam generasi sekarang tentu akan percaya saja dengan konstruksinya seperti yang dijumpai sekarang.

Candi-candi dan juga situs kuno di wilayah Kecamatan Trowulan ini letaknya di tengah-tengah perkampungan penduduk maupun di tengah lahan pertanian, paling terlihat tanaman tebu di sekitar candi-candi itu. Oleh sebab itu, bilamana dibaca lebih jauh, tempat suci yang dibangun masa itu tidak menyimbolkan kesatuan kekuatan kerajaan, melainkan terpisah-pisah. Apalagi ditengok masih terdapat banyak lagi candi-candi lain di wilayah Kecamatan Trowulan seperti Candi Brahu serta candi Gentong yang letaknya juga terpisah. Belum lagi dikaitkan dengan keberadaan kolam Segaran, kolam air, yang juga letaknya menyendiri, terpisah dengan situs Majapahit lainnnya.

Pada candi Bajang Ratu, generasi jaman now bisa melihat peninggalan Raja Jayanegara yang seperti ditulis Pramitasari dan Muflihah (2018) dalam artikel berjudul Wisata Cagar Budaya sebagai Potensi Sarana Edukasi di Triwulan, diangkat menjadi raja sewaktu masih kecil. Bajang berarti kecil. Kata bajang digabung dengan ratu menjadi sebutan kata ratu bajang atau bajang ratu. Disebut juga dengan Gapura Bajang Ratu, karena candi ini bentuknya berupa gapura besar, yang berfungsi sebagai pintu belakang kerajaan dan sebagai bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara. Gapura Bajang Ratu memiliki tiga bagian, di antaranya kaki, tubuh dan atap, dan mempunyai semacam sayap dan pagar tembok di kedua sisi. 

Perlu sedikit tambahan juga, gapura pintu belakang ini, seperti dituangkan dalam papan keterangan di area lokasi, gerbang di belakang ini menyimbolkan sebagai pintu pelepasan untuk meninggalkan kehidupan. Menariknya, keyakinan ini masih tertanam hingga sekarang di relung masyarakat sekitar candi Bajang Ratu, ketika mereka mengunjungi rumah duka karena kematian, pulangnya bukan melewati pintu depan, melainkan pintu belakang. Dengan lewat pintu belakang, mengingatkan akan pelepasan dan menjauhkan kemelekatan pada kehidupan duniawi.

Sebungkus plastik es tebu segar memang begitu menggoda, sebelum meninggalkan candi Bajang Ratu. Harganya pun tidak mahal. Sebanding dengan cita rasa tebunya yang begitu nyata. 

MN

Komentar