Mengenal Danwei, Ikatan Sosial Masyarakat China Bernafaskan Proletarian dan Egalitarian

Bagaimana jika kantong-kantong suara itu seperti komplek pemukiman dan pekerjaan sekaligus seperti danwei di China? 

Di negara demokrasi seperti Indonesia, membangun basis dukungan untuk mencari perolehan suara lewat pemilu bukanlah sebuah pemandangan yang aneh. Jauh sebelum pertarungan resmi dimulai pun, para caleg dan capres telah terjun ke masyarakat. Mereka berusaha merebut hati para calon pemilih. Rasanya lumrah juga bilamana kunjungan para politisi seperti sekarang ini dimaksudkan untuk membangun basis suara dan memperkuat basis dukungan jika memang sudah terbangun kecocokan.

Baca juga: Panda di Luar China Diberi Nama dan Fakta Lainnya


Tidak cukup dengan hanya menebar visi, misi dan janji-janji, terkadang unsur primordial sengaja atau tidak sengaja ikut dipamerkan. Sebaran baliho di berbagai tempat seringkali mengapungkan sentimen kelompok serta unsur primordial calon. Ujung-ujungnya terperangkap pada debat panas layak tidaknya politik identitas.

Ketiga calon presiden yang sudah mendapatkan dukungan partai, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto hari-hari ini paling sibuk menyambangi kantong-kantong suara yang berpotensi mendukung mereka. Bukan hanya melipir pada kolega mereka dari partai yang berbeda, namun juga keliling Indonesia. Mereka senantiasa berada di kerumunan. Tidak cukup hanya mendatangi simpul tokoh masyarakat yang berkerumun itu.

Bagaimana jika kantong-kantong suara itu seperti komplek pemukiman dan pekerjaan sekaligus seperti danwei di China? Mungkin saja lebih menarik karena para calon pemilih sudah terkonsentrasi di blok-blok pemukiman yang menyatu dengan pabrik tempat kerjanya. Sayangnya sistem danwei seperti ini belum begitu dikenal di Indonesia.

Awalnya memang dari kebijakan pemerintah. Kebangkitan raksasa ekonomi China sekarang ini bukan hanya karena kekuatan para pemimpin negara dan partai. Sumbangan besar sistem sosial yang berkembang dari sistem pemukiman dan perusahaan yang dibangun negara di era sosialis dulu kini berdampak nyata sekarang. 

Memang benar kemunculannya diperkenalkan pemerintahan komunis sosialis China di era Mao Tse Tung yang memimpin China tahun 1949-1976. Pemerintahan Mao Tse tung mengadopsi model perencanaan kota seperti di Eropa Tengah dan Timur, membangun komplek-komplek perumahan untuk tenaga buruh yang diangkut dari kawasan pedesaan. 

Sebagai tenaga kerja di bawah perusahaan pemerintah, hidup mereka dikendalikan oleh pemerintah. Namun juga sebaliknya, fasilitas yang diberikan kepada rakyat sangat mudah terdistribusi lewat para pengurus danwei. Sekilas bentuk dan fungsinya seperti organisasi rukun tetangga (RT), walaupun tingkat keterikatannya tidak dapat dibandingkan. Danwei menyentuh semua aspek, mulai dari ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, hiburan dan sebagainya. Secara politis, mereka juga menjadi subjek yang mudah diawasi oleh pemerintah.

Modal sosial organisasi masyarakat yang sedemikian kokoh ini menjadi lebih produktif tatkala Deng Xiaoping membawa reformasi ekonomi di tahun 1978. Sektor swasta mulai dibuka disertai diperbolehkannya investasi asing.

Kota-kota pabrik yang dulu dirintis oleh danwei ini terbukti sangat ampuh dalam menanamkan semangat loyalitas proletarian pada masyarakat kota terhadap negara serta mendorong kesadaran egalitarian di antara sesama.

Di kota Shenzhen misalnya, terdapat komplek dikelilingi tembok Foxconn city yang dimiliki perusahaan asal Taiwan. Luas komplek industri pembuat onderdil peralatan elektronik termasuk iPhone yang mengadopsi model danwei ini sekitar 3 kilometer persegi. Di dalam komplek industri dan pemukiman ini terdapat sekitar 420 ribu pekerja pabrik. 

Di dalam wilayah yang dikelilingi tembok ini, mereka memiliki pasukan pemadam api, rumah sakit, bank, stasiun siaran TV dan fasilitas lainnya. Industri ini menarik para penduduk desa untuk migrasi ke kota seperti di Shenzhen ini walaupun menjadi pekerja di pabrik-pabrik dengan bayaran murah.

Baca juga: Rahasia Di Balik Kemajuan China

Pemandangan di kota-kota lain tidak jauh berbeda. Komplek industri dan sekaligus menjadi pemukiman para pekerjanya (danwei). Inilah mereka yang kini menjadi aktor utama kebangkitan ekonomi China menjadi raksasa baru. Perusahaan milik negara banyak melakukan investasi ke luar negeri dengan para pekerja yang memiliki loyalitas proletarian dan semangat egalitarian. 

Seandainya mereka dikenalkan sistem demokrasi seperti di Indonesia, mungkin tidak akan ada istilah politik identitas yang menyasar pada segmen tertentu dalam masyarakat. 

MN, dari berbagai sumber.

Komentar

POPULER SEPEKAN

Polemik Chattra Borobudur: Mencari Titik Temu dalam Tata Kelola Warisan Dunia

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Mengintip Kolej Pelajar di Malaysia

Hati-Hati! Driver Ojol Malaysia Bisa Meng-cancel Pesanan dan Mengenakan Denda

Jakarta dalam Peta Kota Budaya Dunia: Dari Museum Bahari hingga Strategi Urban Global

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Ketika Iklim Mengalahkan Ekonomi: Kecemasan Baru Warga Asia Tenggara

ARTIKEL TERFAVORIT

Memanfaatkan Setu-Setu di Depok Sekaligus Menjaganya dari Ancaman Alih Fungsi

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Judi Online Berlari Liar di Antara Pekerja Informal Hingga Anggota Dewan

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Musik Gambus "Milik" Betawi Berunsur Kebudayaan Nusantara

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Antara Pariwisata dan Pelestarian: Dilema Borobudur dalam Perpres 101 Tahun 2024

Melipir Mewarnai Gerabah di Museum Benteng Vredeburg

Kawasan Menteng Bergaya Eropa Jejak Peninggalan Kebijakan Daendals

FAVORIT LAINNYA

Timun atau Melon Suri yang Selalu Beredar di Jabodetabek di Bulan Suci?

Jakarta dalam Peta Kota Budaya Dunia: Dari Museum Bahari hingga Strategi Urban Global

Perpaduan Budaya Penambah Eksotis Masjid Ridho Ilahi, Wilangan, Nganjuk

Nyadran Masyarakat Etnis Jawa di Ranah Melayu Jambi

Indonesia Salary Range Report 2026: Gaji Naik Pelan, Tantangan Makin Kencang

Polemik Chattra Borobudur: Mencari Titik Temu dalam Tata Kelola Warisan Dunia

Mengintip Kolej Pelajar di Malaysia

H.A. Mudzakir, Santri dan Seniman Langka yang Pernah Dimiliki Jepara

Anne Scheiber: "Saat Gaji Naik Tipis, Ketahanan Finansial Jadi Kunci"

Kirimkan Artikel Terbaik Anda

Kanal ini menerima sumbangsih tulisan features terkait dengan area dan tujuan kanal. Panjang tulisan antara 500-700 kata. Dikirim dengan format, yakni judul-MN-nama penulis. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.