Perang Enam Hari yang Mengubah Timur Tengah (1)

Perlawanan kelompok Hamas di Palestina terhadap Israel sekarang ini, tidak dapat dipisahkan dari sejarah pendudukan Palestina oleh Israel. Selain itu, provokasi dan penyerangan Israel terhadap negara-negara Arab di saat negara Israel yang baru berdiri 14 Mei 1948. Redaksi MelipirNews mencoba mengurai kembali sejarah zionis Israel yang melakukan pendudukan di Palestina dan perlawanan negara-negara Teluk pada saat itu. Satu film dokumenter dari Al Jazeera menjadi rujukan di sini.


Tanggal 15 Mei 1967, sebuah parade militer diselenggarakan untuk memperingati 19 tahun berdirinya negara Israel. Sehari sebelumnya Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser memerintahkan pasukannya menyiagakan diri sepanjang perbatasan dengan Israel. Menurut veteran pilot Mesir Farid Harfoush, militer Mesir mengira Israel akan mudah ditundukkan dan Kota Tel Aviv segera dapat dimasuki.

Pada 6 Juni 1967, Israel tiba-tiba melancarkan perang total melawan tetangga Arabnya. Menurut ahli sejarah militer Israel, perang 6 hari itu disebut bersejarah dalam peperangan militer karena sebenarnya bukan perang sungguhan. Serangan udara Israel tanpa perlawanan karena pasukan musuh kebanyakan menyelamatkan diri dan tidak melakukan perlawanan. Setelah 6 hari pertempuran, militer Mesir, Jordania dan Syiria dapat dikalahkan. Pasca perang 6 hari itu, peta Timur Tengah berubah.

Perang tahun 1967 ini sebetulnya tidak dapat terlepas dari jejak peristiwa dua dekade sebelumnya. Pada 14 Mei 1948, hari pemimpin zionis Israel David Ben-Gurion mendeklarasikan berdirinya negara Israel. Setelah deklarasi hari itu, tentara negara-negara Arab mulai melakukan perlawanan namun dengan senjata yang terbatas. Prancis menyuplai senjata ke Lebanon dan Syiria, sementara Inggris menyuplai senjata ke Mesir, Jordania dan Irak. Apesnya, di tahun 1948 itu, negara-negara Timur Tengah dikenakan embargo pengapalan senjata oleh PBB. Prancis dan Inggris menuruti embargo tersebut. Berbeda dengan tentara Israel yang mendapatkan senjata-senjata mutakhir dari pasar gelap senjata di Eropa. Dalam situasi seperti ini, perang mengancam setiap saat. Demikian menurut sejarawan Israel, Benny Morris.

Dalam pandangan Mahmoud Abdel Zaher, sejarawan militer Mesir, dengan persenjataan lebih kuat, tentara Israel berhasil mengusir tentara-tentara Arab dari wilayah Palestina. Bagi Israel, tentara Mesir paling dianggap berbahaya dan perbatasan dengan Mesir selalu disiagakan karena juga paling serius mendatangkan ancaman di antara negara-negara Arab.

Akhir Oktober 1948, pasukan Israel terus melaju. Satu brigade pasukan Mesir terkepung di sebuah desa di wilayah Palestina, yaitu desa Al Faluja. Salah satu tentara yang terkepung itu adalah Mayor Gamal Abdel Nasser. Untuk melepaskan tentara itu, Israel dan Mesir bertemu di Rhode Island, Yunani, atas dukungan PBB. Setelah tawar menawar selama sebulan, dicapai gencatan senjata. Bagi Mesir, hal paling utama adalah menyelamatkan tentara mereka yang terkepung di Al Faluja itu. Menurut sejarawan Israel, Michel Bar-Zohar, Mesir tidak menuntut wilayah ke pihak Israel, kecuali hanya pembebasan tawanan. Oleh karena itu, perjanjian gencatan senjata mudah saja dilakukan.

Selanjutnya pada musim panas 1949, Lebanon, Jordania dan Syiria juga mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan Israel. Akibatnya wilayah teritori Yahudi Israel makin meluas di wilayah Palestina. Sebaliknya, wilayah Arab makin menyempit. Tinggallah wilayah Jerusalem Timur dan West Bank di bawah kontrol Jordania, sementara Jalur Gaza berada di bawah administrasi Mesir.

Di tengah kekalahan itu, Gamal Abdel Nasser memilih menjadi bagian dari tentara bebas (free officers) dan memendam kekecewaan terhadap Raja Faruk. Tahun 1952, raja dikudeta oleh kelompok tentara free officers ini. Gamal Abdel Nasser sangat populer berada di balik Revolusi Juli ini. Naiknya popularitas Gamal Abdel Nasser ini menakutkan bagi David Ben-Gurion di Israel karena berpotensi akan menyatukan Arab untuk melawan Israel. Gurion takut akan muncul sosok seperti Kamal Attaturk. Maka pada Februari 1955, Gurion kembali ke pentas politik Israel. Ia menduduki jabatan menteri pertahanan.

Seminggu setelah menduduki pos-nya, Gurion mengirimkan 150 tentara penerjun payungnya, di bawah komando Mayor Ariel Sharon memasuki wilayah Gaza untuk menyerang basis militer Mesir. 40 tentara Mesir tewas dan sisanya banyak yang cedera. Saat itu, serangan dan provokasi-provokasi Israel, di bawah Gurion, terus berlanjut di wilayah perbatasan dengan Mesir. Gamal Abdel Nasser yang datang ke Gaza di awal Maret 1955 merespon serangan Israel dengan bersumpah tidak menoleransi agresi Israel tersebut dan akan menuntut balas. Demikian penuturan sejarawan Palestina, Salim El-Mubayed.

Bersambung

Komentar