Ida Dayak dan Momentum Kembalinya Marwah Juru Pijat Tradisional

"Mengapa orang berjubel menonton Ida Dayak?"

---


Jika sakit, tentu harapan terbesar seorang penderita agar secepatnya sembuh seperti sedia kala. Tidak terkecuali sakit apapun. Dalam situasi seperti ini, ada kalanya penderita dan keluarganya tidak lagi melihat penting tidaknya siapa yang bisa menjadi perantara penyembuhannya. Jika tak lagi fanatik dalam mencari jalan kesembuhan pada satu jasa penyedia kesembuhan penyakit tertentu, lalu penderita dan keluarganya biasanya aktif mencari tahu dan terkadang dilanjutkan dengan aksinya untuk mencari pihak yang bisa menjadi perantara kesembuhan. Pijat tradisional menjadi salah satu pilihan.

Dalam istilah kesehatan masyarakat (public health), perilaku masyarakat yang demikian ini disebut health seeking behavior (perilaku masyarakat untuk penyembuhan) atau health related behavior alias tindakan masyarakat untuk mencari kesembuhan dan sehat. Tindakan masyarakat ini terkadang dianggap sebagai pencarian pengobatan alternatif yang berbeda dengan pengobatan modern model konvensional ala Barat. Menakjubkannya, pengobatan alternatif ini masih saja ada di Tanah Air walaupun tidak begitu lagi semarak.

Dari dulu kala, sosok seperti Ida Dayak yang baru-baru ini membuka pelayanan medisnya di kawasan Bogor dan Depok bukan satu dua orang. Sudah banyak sosok-sosok penyedia jasa penyembuhan alternatif yang beroperasi di berbagai daerah. Anehnya adalah mengapa sampai menyita publik. Ini yang selalu menarik. Ratusan masyarakat rela mendatangi tempat praktik Ida Dayak, yang sesuai dengan nama yang disematkannya, ia disebutkan berasal dari Kalimantan Timur. Dengan berbekal keterampilannya memijat tubuh, Ida Dayak melayani penderita beberapa penyakit yang terkait dengan urat dan syaraf. Tidak ketinggalan, ia juga memiliki ramuan herbal yang selalu dibawanya ketika ia sedang buka praktik. Lumrah saja biasa memang ramuan herbal amat dekat dengan teknik pengobatan tradisional. Jika orang mendatangi dan meramaikan juru pijat alias tukang urut sedang melakukan terapi, rasanya ini bukan semata masalah pencarian kesehatan.

Praktik tukang urut model Ida Dayak sebenarnya juga sudah lumrah di berbagai tempat hingga di pelosok desa di Indonesia. Sebelum mengenal ilmu kedokteran modern, masyarakat Indonesia telah mengakrabi pengobatan model terapi pijat. Belakangan, semakin canggihnya peralatan kesehatan disediakan, dan semakin menjamurnya pusat layanan kesehatan termasuk Puskesmas, jasa tukang pijat makin tidak terawat. 

Entah sejak kapan tukang pijat menjadi terasosiasi kuat dengan para tuna netra. Penyandingan tuna netra dengan pijat mengandung makna yang juga bisa dipandang merendahkan sebenarnya. Awalnya sekali pasti semua paham, bahwa pijat kemudian diasosiasikan kepada jasa pijat plus-plus yang, sekali lagi karena tidak ada yang menjaga marwah pijat itu sendiri, dialamatkan pada para penjaja seks. Efeknya, pijat bukan sungguh-sungguh sebagai sarana untuk penyembuhan, melainkan sebatas sebagai hiburan. Para pemijat yang plus-plus itu pun layak diragukan kemampuan dalam teknik memijatnya. Apalagi hanya demi melayani para lelaki hidung belang. Begitu pula, dengan menyandingkannya pada kaum difabel, pijat juga semakin tidak jelas fungsinya sebagai teknik untuk penyembuhan penyakit. Kuat dugaan, pijat tuna netra ini hanya untuk mengatakan bahwa pemijatnya aman karena matanya tidak jelalatan. Berbeda jika pemijatnya bukan difabel, ditakutkan malah akan melecehkan penderita sakit yang dipijatnya. Betapa memang pemahaman keliru masyarakat terhadap jasa terapi urut atau pijat tradisional ini dibiarkan begitu saja dan tanpa ada pihak-pihak yang mencoba meluruskan.

Akibat selanjutnya, sekarang tinggallah kenangan, nama-nama besar pemijat di sekitar. Di kawasan Cipete besar nama Haji Nawi yang sudah wafat. Mereka sudah hampir punah. Para pemijat yang memang lihai dalam mengembalikan urat yang mungkin terasa kaku atau tidak tepat. Dari sisi konsumen, penderita butuh terapi dan salah satu terapi yang dari dulu melekat pada bangsa Indonesia adalah melekat pada para juru pijat. Masyarakat yang dipijat juga tidak mengenal umur, dari usia balita hingga lansia. Cara masyarakat mencari kesembuhan lewat pijat ini layak tetap dilestarikan sebagai salah satu contoh dari health seeking behavior masyarakat Indonesia yang sejak dulu telah ada.

Momentum ramainya pemberitaan praktik Ida Dayak saat ini sekaligus tepat untuk mengembalikan urut alias pijat tradisional sebagai salah satu cara masyarakat tetap sehat. Saatnya juga mengembalikan marwah dan kehormatan teknik pemijatan tradisional yang dari dulu telah ada secara turun temurun di berbagai tempat di Indonesia, agar tetap menjadi salah satu alternatif penyembuhan. Bukan lagi terdapat embel-embel plus-plus serta penyematan pada kaum difabel yang merendahkan itu.

Akan halnya keramaian massa yang ditimbulkan atas terjadinya terapi urut tradisional itu, maka masyarakat mungkin menganggap tukang pijat atau urut itu sosok manusia yang sakti mandraguna. Padahal, masalahnya sosok-sosok mereka semakin langka saja.

MN

Catatan: judul telah mengalami perubahan dari semula "Ida Dayak, Pencairan Kesembuhan dan Marwah Juru Pijat Tradisional" menjadi, "Ida Dayak dan Momentum Kembalinya Marwah Juru Pijat Tradisional". Harap maklum!

 


Komentar