Terasa di Sini, Kretek Indonesia Masih Jaya

Jika sekarang di Tolitoli terdapat gudang cengkeh milik salah satu perusahaan rokok besar di Indonesia, maka di Jawa seperti di Temanggung terdapat beberapa gudang tembakau milik perusahaan rokok besar.

Terik siang itu tertolong dengan topi yang menutupi kepala. Pandangan lurus terus ke depan sambil langkah kaki menyusuri jalanan komplek perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Tolitoli yang berdempetan dengan rumah-rumah warga. Tak diduga, pandangan mata tertuju pada hamparan warna merah kecoklatan yang dihajar terik panas matahari di kejauhan. Tatap mata terus tertuju padanya. Gerangan apa benda itu? Setelah semakin dekat dan dekat, ternyata itulah bunga cengkeh yang sedang dikeringkan di pinggir jalan. Beberapa jengkal langkah sebelumnya pun sudah semerbak bau harum menusuk hidung khas bunga cengkeh. Menengok sedikit ke halaman rumah warga tersebut, ternyata terpal-terpal alas pengeringan bunga cengkeh dan buah pala lebih banyak lagi. Karena di halaman tidak lagi menampung, sebagian cengkeh dikeringkan di pinggir jalan umum. Ternyata tidak hanya bunga cengkeh, juga ada daging buah pala yang dikeringkan.

Dok. Melipirnews

Bicara jenis rempah-rempah ini, berarti bicara apa yang tidak ada dan dapat tumbuh di bagian dunia yang lain. Disebutkan, kawasan antara pantai Pasifik dan New Guinea merupakan lahan satu-satunya tempat tumbuhnya tanaman-tanaman ini. Mengapa dulu orang dari Eropa menyempatkan datang ribuan kilometer dengan kapal laut demi untuk menemukan tanaman rempah-rempah ini sebenarnya terjawab dengan sendirinya. Artinya, dari dulu rempah-rempah bukanlah barang sepele. Selain sebagai sarana pengobatan, rempah-rempah juga sebagai pengharum ruangan dan juga meningkatkan selera makan orang-orang Eropa saat itu.

Dalam konteks Indonesia, inilah yang kemudian menarik untuk ditelusuri, mengapa lalu muncul tanaman pasangan cengkeh yakni tembakau yang ternyata kawasan tumbuhnya terpisah dari kawasan rempah-rempah Maluku dan sekitarnya ini, termasuk Tolitoli. Sumatera bagian utara serta Jawa bagian tengah dan timur sejak dahulu justru dikenal penghasil daun-daun tembakau pilihan. Jika sekarang di Tolitoli terdapat gudang cengkeh milik salah satu perusahaan rokok besar di Indonesia, maka di Jawa seperti di Temanggung terdapat beberapa gudang tembakau milik perusahaan rokok besar. Begitulah jasa ahli pertanian dan perkebunan masa itu yang jeli membaca potensi lahan untuk tanaman tertentu.

Lalu karena rempah-rempah adalah khas Indonesia, maka tidak heran apabila rokok kretek pun memang adalah khas Indonesia. Beberapa lembaga yang mengampanyekan anti cengkeh, bahkan juga anti rokok menyudutkan rokok kretek sebagai biang paling menakutkan dari aneka penyakit serius. Maka, rokok kretek produk Indonesia menjadi rokok paling dikucilkan di seluruh muka bumi. Padahal rokok kretek pernah merajai Amerika Serikat di tahun 1980an. Puncaknya di tahun 1984 ketika impor rokok kretek Amerika Serikat dari Indonesia mencapai 150 juta rokok (cigarettes) pertahun.

Serangan-serangan terhadap rokok kretek pun terus dilancarkan bahkan sampai beberapa tahun belakangan. Malah bukan hanya dari luar negeri, melainkan di negeri sendiri. Sesama anak bangsa menyalahkan satu sama lain gara-gara terkena kompor yang disulut dari luar. Sampai-sampai tidak sadar bahwa komponen-komponen kretek itu adalah khas Indonesia, tidak ditemukan di luar Indonesia. Cengkeh bagian dari rempah-rempah merupakan tanaman khas Indonesia. Pro dan kontra bersahut-sahutan antara boleh tidaknya menghisap rokok. Bukan lagi soal jenis rokok, yang awalnya sebetulnya untuk menenggelamkan rokok kretek. Paling jelas kebijakan antara peningkatan cukai rokok di satu sisi dan kebijakan pengurangan jumlah perokok di sisi berbeda, juga memperjelas demarkasi antara pro dan kontra kebiasaan merokok.

Dok. Melipirnews

Seorang warga Tolitoli bertutur, cengkeh dan pala sejak dulu telah ada di kehidupan keluarganya. Hampir setiap rumah di Tolitoli memiliki kebun cengkeh dan pala. Menariknya lagi, tanaman ini siap dipetik bunganya kapan saja tidak menunggu musimnya tiba. Namun dirinya menyebut bahwa cengkeh dan pala kebanyakan sekarang menjadi usaha sampingan. Tidak pernah lagi mengalami masa jayanya dulu sebelum dijatuhkan skandal cengkeh nasional saat itu. Sampai kini mereka sebatas mengeringkan cengkeh dan pala hasil kebun mereka, selanjutnya tengkulak sudah siap menjemput. Harga pun mengikuti tengkulak. Bagi petani, mereka tetap bercocok tanam untuk tanaman padi dan palawija umumnya. Saking tidak tahunya untuk apa selain sebagai bumbu rokok kretek, seorang warga bertanya apa gunanya cengkeh selain untuk rokok?

Dilihat dari sisi etnis di Tolitoli, terdapat etnis Tolitoli, Bugis, Kaili dan beberapa etnis lain seperti Jawa, Buol, Gorontalo, Minahasa, Flores, dan lain sebagainya. Penganut agama juga beragam dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha. Keragaman yang ada sepertinya turut dipersatukan dengan hasil tanaman andalan mereka berupa cengkeh dan pala ini.

MN

Komentar